Selamat Datang di website Pengadilan Agama Tanjung. Website ini dilengkapi akses difable, Silakan block tulisan dan klik aykon speaker untuk mendengarkan   Click to listen highlighted text! Selamat Datang di website Pengadilan Agama Tanjung. Website ini dilengkapi akses difable, Silakan block tulisan dan klik aykon speaker untuk mendengarkan Powered By GSpeech

Kolom Artikel

Tatkala Nyawa Begitu (Tak) Berharga

“…Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya...” (QS. al-Maidah [5]: 32)

Di hadapan Parlemen Eropa, Syaikh Ahmad Badruddin Hassoun pernah mendedahkan ungkapan yang penuh cinta dan penghargaan terhadap jiwa dan kemanusiaan. “Seandainya Ka’bah dihancurkan niscaya akan dibangun kembali oleh anak-anak kita. Bila Masjid al-Aqsha dihancurkan niscaya akan dibangun kembali oleh cucu-cucu kita. Jika Gereja al-Qiyamah dihancurkan niscaya akan dibangun oleh generasi selanjutnya,” tutur Grand Mufti Suriah alumnus doktoral Universitas al-Azhar tersebut.

“Tetapi,” lanjut Syaikh Hassoun, “Jika manusia dihancurkan (dibunuh), lalu siapa yang akan membangun-hidupkannya kembali?” Manusia itu, ungkapnya, adalah kreasi-cipta Allah. “Wa mal’uunun man hadama binaa-alLah (dan terlaknatlah siapapun yang menghancurkan kreasi-cipta Allah),” tegasnya. Hampir 10 tahun lalu petikan orasi tersebut mendapatkan standing applause. Namun rasa-rasanya, “api” semangat perdamaian dan cinta akan kemanusiaan yang digelorakan Syaikh Hassoun perlu dirayakan kembali.

Bahwa ada yang lebih mulia dan suci dibandingkan bangunan-bangunan fenomenal nan dipuja-puji. Yaitu nyawa manusia yang bila sudah tiada tidak ada gantinya lagi. Bila sudah dihancurkan tiada mungkin hidup lagi. Al-Qur’an mengabarkan bahwa manusia dicipta dengan sebaik-baik wujud (ahsanu taqwiim). Ciptaan terbaik tersebut harus dihormati, dijunjung tinggi, seraya diisi iman dan budi pekerti hingga nilai baiknya mengabadi. Bukan justru saling menyalahkan hanya beda pandangan sementara kiblat yang dihadap dikala shalat masih serupa.

Lebih dari itu, persaudaraan itu sendiri bukan semata karena kesamaan akidah. Mereka yang berbeda keyakinan pun tetaplah saudara kita. Sering kita dengar, engkau yang bukan saudaraku karena keyakinan tetaplah saudaraku karena kemanusiaan. Dalam istilah lain, disamping ada ukhuwah islamiyah juga ada ukhuwah basyariyah. Persaudaraan karena kemanusiaan inilah yang semestinya menjadi alasan untuk berbagi cinta kepada siapapun. Bila cinta yang dikedepankan maka rasa benci dan hasrat untuk meniadakan pasti akan hilang.

Sebagaimana nasihat seorang alim, perjuangan kontekstual itu bukanlah mati di jalan Allah tetapi bagaimana hidup di jalan Allah (walaakin an nahya fii sabiilillah). Semangat hidup di jalan Allah itulah yang membuat manusia berkompetisi secara sehat. Saling menghormati dan menganggap yang berbeda itu adalah keniscayaan. Mereka yang berbeda bukanlah musuh melainkan partner yang menjadi ujian kedewasaan iman kita untuk hidup bersama. Mereka yang tidak memusuhi adalah juga saudara yang harus diberikan hak-haknya sebagai manusia.

Menyaksikan jenazah Yahudi yang sedang ditandu, Rasulullah Saw pun berdiri menghormati. Ada yang protes. “Bukankah ia seorang Yahudi, wahai Rasul?” Saat itu Rasulullah Saw justru menegaskan penghargaan terhadap kemanusiaan. “Alaisat nafsan?” sabda Rasulullah Saw. Meskipun Yahudi, menurut Rasulullah Saw, tetap saja ia seorang manusia. Karena sesama manusia itulah maka tetap harus dihormati dalam kadar tertentu. Itulah Islam yang penuh dengan kedamaian, menghormati sesama di atas pertimbangan kesamaan keyakinan semata.

Dari Rasulullah Saw kita belajar bahwa nilai kedamaian dalam Islam itu harus tersemai kepada siapapun. Sebagaimana Rasulullah Saw yang diutus membawa ajaran Islam untuk menjadi rahmat (kasih sayang). Bukan untuk muslimin sahaja namun teruntuk seluruh alam (lil ‘aalamiin). Karenanya, penghormatan terhadap sesama itu bukan tersebab kesamaan agama. Tetapi karena nyawa siapapun itu, apapun agama dan keyakinannya terlalu berharga untuk dikorbankan. Sementara nyawa itu bila sudah tiada maka ia akan pergi selamanya.

Di akhir setiap shalat kita menoleh ke kanan dan ke kiri mengucapkan “salam”. Salam alias kedamaian/keselamatan tersebut adalah inti dari Islam itu sendiri. Dan menoleh ke kanan dan ke kiri itu adalah simbol. Bahwa seba’da ritual ibadah yang mulia tersebut ada pekerjaan besar yaitu berbagi dan menebarkan cinta dan damai kepada penduduk alam. Benar bahwa kekerasan dan terorisme itu bisa dilakukan oleh pemeluk agama manapun. Tetapi tidak ada salahnya dimulai dari diri sendiri dengan merenungi ritualitas ibadah sehari-hari.

Betapa luar biasanya Islam menghormati dan menghargai kemanusiaan. Dilukiskan bahwa membunuh satu jiwa tanpa hak seakan membunuh manusia seluruhnya. Dan yang memelihara kehidupan satu jiwa seolah telah memelihara manusia seluruhnya. Sementara belakangan ini, nyawa yang begitu berharga tersebut—karena ulah oknum yang kehilangan rasa cinta dan kasih dari dalam hatinya—menjadi begitu tak berharga. Seusai menarik nafas panjang, mari kita tiupkan angin cinta yang meneduhkan dan mendamaikan. []

 Samsul Zakaria, S.Sy.,
Calon Hakim di PA Tanjung,
Reporter UII News, 2015-2018

Note:

Sebelumnya, tulisan ini telah terbit di detik.com, Jumat, 18 Mei 2018. Tautan: (https://news.detik.com/kolom/d-4026580/tatkala-nyawa-begitu-tak-berharga)


Click to listen highlighted text! Powered By GSpeech