Selamat Datang di Situs Resmi Pengadilan Agama Tanjung - Tabalong | Media Informasi & Transparansi Pengadilan Agama Tanjung.

Situs Pilihan



Kalender Hijriah

Selasa
14
Muharram
1440 H

Statistik Web

Jumlah Pengunjung :
227533
Pengunjung Hari Ini :
41
User Online :
1
Terakhir Update :
20-09-2018

Administrator Website

  • Rudiansyah

Pendapat Anda

 

Idul Fitri, Mudik, dan Kemenangan Diri

Ketika mudik ke kampung halaman, ada beberapa pertanyaan yang sering dilontarkan oleh penduduk kampung. Mulai dari pekerjaan di tanah rantau sampai—meskipun ini tidak selalu bermakna serius—perihal oleh-oleh yang dibawa. Pertanyaan tentang oleh-oleh ini sebenarnya mengingatkan kita tentang ‘mudik’ ke kampung akhirat. Bahwa di alam keabadian itu, kita pasti akan ditanya ‘oleh-oleh’ alias bekal apa yang dibawa dari tanah rantau dunia.

 

Mudik dalam konteks dunia hampir selalu terjadi pada momen Idul Fitri. Adapun mudik ke kampung akhirat hanya sekali saja terjadi. Mudik di dunia adalah sebuah pilihan dan terkadang menjadi ukuran keberhasilan. Berbeda dengan mudik abadi, ia adalah sebuah kepastian. Mau tidak mau, suka tidak suka, setiap kita pasti akan mengalaminya. Karenanya, kita yang terlatih menyiapkan oleh-oleh menjelang mudik Idul Fitri, semestinya harus lebih lihai menyiapkan bekal ‘mudik’ ke akhirat.

 

Mudik yang identik dengan Idul Fitri atau lebaran tersebut dengan demikian menjadi pengingat guna meraih kemenangan diri (keselamatan) di akhirat. Kemenangan diri di akhirat tersebut harus dimulai dengan kemenangan diri sejak di kampung dunia. Seperti sabda Rasulullah bahwa jihad yang lebih besar adalah jihad melawan diri sendiri. Maknanya, para pemenang itu adalah mereka yang berhasil mengalahkan segala hasrat negatif yang ada dalam dirinya.

 

Idul Fitri biasa ditandai barunya pakaian yang membaluti dan menghiasi tubuh. Baju baru juga menjadi salah satu oleh-oleh yang dibawa ketika mudik untuk dihadiahkan kepada orang tua, saudara, dan karib kerabat. Berbaju baru di kala Idul Fitri tersebut paling tidak sebagai upaya untuk tampil wajar dan pantas kala saling bertemu, bertamu, dan menerima tamu (Ishomuddin, 2018). Selain sebagai simbol kebaruan iman dan kesucian diri.

 

Dalam QS al-A’raf [6] ayat 26 difirmankan bahwa Allah telah menurunkan pakaian kepada anak cucu Adam guna menutup aurat dan sebagai perhiasan. Namun selanjutnya, masih di ayat yang sama disampaikan bahwa pakaian takwa itulah yang paling baik (wa libasut taqwa dzalika khair). Tanpa mengesampingkan perlunya pakaian baru Idul Fitri, ada pakaian yang lebih penting dan substansial. Itulah pakaian takwa.

 

Wujud pakaian takwa—diterangkan dalam Tafsir Jalalain—adalah amal kebajikan dan perilaku yang baik (al-‘amal ash-shalih wa as-sumtu al-hasan). Sejalan dengan itu, hasil tempaan selama bulan Ramadhan harus mampu terwujudkan di bulan-bulan selanjutnya. Dengan demikian, spirit Ramadhan tetap terpatri dalam diri sejak datangnya Idul Fitri sampai bertemu Ramadhan kembali dan bahkan hatta suatu saat harus ‘mudik’ ke kampung abadi.

 

Kemenangan diri di hari nan fitri ini menjadikan kita—meminjam logika Cak Nun—bijak memposisikan mana isi (substansi) dan mana yang sekadar bungkus (kemasan). Kata Cak Nun, utamakan isinya serta tetaplah merawat bungkusnya dengan baik. Kata para bijak pandai, laisal ‘id li man labisal jadid wa lakinnal ‘id li man taqwahu yazid. Idul Fitri sejatinya bukan bagi mereka yang mengenakan baju baru. Tapi, bagi mereka yang kadar takwanya bertambah.

 

Samsul Zakaria, S.Sy., Calon Hakim di Pengadilan Agama (PA) Tanjung. Sedang menyelesaikan studi Magister Hukum (MH) di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dapat disapa lewat @samsul.zakaria

 

 

Note:

Tulisan ini juga dapat diakses di website Badan Peradilan Agama (Badilag) Mahkamah Agung RI: (https://badilag.mahkamahagung.go.id/hikmah/publikasi/hikmah-badilag/idul-fitri-mudik-dan-kemenangan-diri-oleh-samsul-zakaria-s-sy-25-6)

 

Total akses : 44