Selamat Datang di Situs Resmi Pengadilan Agama Tanjung - Tabalong | Media Informasi & Transparansi Pengadilan Agama Tanjung.

Situs Pilihan



Kalender Hijriah

Selasa
14
Muharram
1440 H

Statistik Web

Jumlah Pengunjung :
227533
Pengunjung Hari Ini :
41
User Online :
1
Terakhir Update :
20-09-2018

Administrator Website

  • Rudiansyah

Pendapat Anda

 

Ramadhan dan Pesan Kedamaian

“Jika seseorang memeranginya atau mencercanya,” sabda Rasulullah SAW, “Maka hendaklah ia berkata: saya sedang berpuasa (inniy shaaim).” Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA tersebut pertama-tama mengabarkan bahwa puasa adalah perisai/tameng (junnah). Karena itulah, orang yang berpuasa (shaaim) hendaknya tidak berkata keji dan kotor. Hal itu dimaksudkan sebagai upaya untuk menjaga keutamaan dari puasa tersebut.

          

Spirit “inniy shaaim” ini nampaknya menarik untuk terus dirayakan meskipun nantinya Ramadhan ini pasti berakhir. Pasalnya, puasa yang baik adalah puasa yang membawa dampak positif (atsar iijabiy) ketika kita sudah tidak lagi berada di bulan Ramadhan. Dengan demikian, hasil tempaan “madrasah” Ramadhan ini tetap bertahan di bulan-bulan berikutnya. Syukur-syukur senantiasa melekat sampai bertemu Ramadhan berikutnya.

         

Hadits singkat di atas menggambarkan betapa puasa tidak cukup hanya dijalankan secara formalistis-fiqh. Dimana puasa hanya menahan diri dari makan, minum, dan segala hal yang membatalkan puasa. Dimulai dari sejak terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari. Meskipun puasa yang hanya demikian itu tetap lebih baik daripada tidak berpuasa sama sekali. Namun perlulah kiranya memaknai ritualitas ibadah lebih dari sekadar kacamata fiqh—wa bil khushush—puasa Ramadhan.

         

Secara bahasa puasa bermakna menahan (al-imsaak). Kalau begitu, yang sejatinya harus ditahan bukan semata hasrat bersantap dan syahwat biologis. Tetapi seluruh elemen dalam tubuh kita juga harus turut-serta ambil peran dalam aktivitas “al-imsaak” tersebut. Khususnya lisan yang amatlah sering terjerumus dalam kubangan dosa dan kemaksiatan. Itulah mengapa Rasulullah SAW menjaminkan surga bagi setiap muslim yang sanggup menjaga lisan dan kemaluannya.

         

Selanjutnya, pikiran juga harus ditahan dan dikendalikan. Pikiran yang biasanya terisi dengan hal-hal negatif sudah semestinya diganti dengan hal-hal yang positif. Lugasnya, lebih mengedepankan husnudzdzann dan menahan diri dari berpikiran negatif. Pikiran bersih nan terkontrol tersebut selain berpengaruh terhadap kesehatan ruhani juga menyehatkan secara fisik. Kabarnya, al-‘aqlus saliim fil jismis saliim. Maknanya, terdapat korelasi erat antara kesehatan ruhiah dan jasmaniah.

 

Tidak heran saat dr. H. Agus Ali Fauzi, PGD, Pall Med (ECU), yang belakangan viral tersebut mengatakan bahwa sehat itu dimulai dari menata hati dan pikiran. Dokter paliatif RSU Dr. Soetomo tersebut menegaskan bahwa makanan memang memiliki pengaruh terhadap kesehatan. Namun hanya 20 persen. Justru yang dominan adalah ketertataan hati, termasuk rasa syukur yang terus dihikmati. Dan Ramadhan ini adalah waktunya untuk menunaikan ikhtiar-ikhtiar suci dimaksud.

 

Pesan Kedamaian 

Menjelang datangnya bulan Ramadhan kemarin, kita disuguhi berita rentetan peristiwa bom bunuh diri. Tindakan yang sejatinya tidak dibenarkan oleh agama dan kepercayaan manapun tersebut telah menciderai konsensus kedamaian dalam berkehidupan. Karen Armstrong pernah menulis buku berjudul Compassion yang isinya tentang konsep welas asih dari agama-agama di dunia. Artinya, setiap agama menginginkan hadirnya keramahan dan kedamaian dalam hidup ini.

         

Apalagi bagi umat muslim yang terbiasa berucap “salam” ketika berjumpa. Salam yang bermakna keselamatan dan kedamaian tersebut adalah bagian inti dari Islam. Bahwa berislam secara baik itu berarti mampu menghadirkan damai bagi diri sendiri, sesama muslim, dan sesama manusia. Shahabat pernah bertanya mengapa Rasulullah SAW berdiri menghormati jenazah Yahudi yang sedang ditandu. “Alaisat nafsan?” jawab Rasulullah SAW. Meski Yahudi, ia tetaplah seorang manusia.

         

Rasulullah SAW mengajarkan berbagi cinta tidak hanya kepada keluarga dan sesama pemeluk Islam sebagai agama. Hal ini lantaran Rasulullah SAW diutus sebagai (dan membawa) rahmat bagi semesta (rahmatan lil ‘aalamiin). Dengan kemuliaan akhlaknya, Rasulullah SAW telah membuat kagum siapapun yang menjumpainya. Kemuliaan akhlak tersebut yang harus kita teladani di bulan mulia ini hingga kita pun menjadi “penerus” Rasulullah SAW untuk berbagi cinta dan damai kepada siapapun.

         

Ramadhan mengajari kita sebanyak mungkin “menahan”. Utamanya, menahan angkara-murka yang bisa teralamatkan kepada siapa saja. Bahkan ketika dicerca, dihina, dan diperangi sekalipun kita diminta untuk menahan diri. Hal ini karena spirit Ramadhan adalah meneguhkan arti kedamaian dan menjauhkan setiap muslim yang “menghidupkan” Ramadhan ini dari rasa benci dan permusuhan. Kala disakiti kita memang boleh membalas namun bila kita mampu bersabar itulah sebaik-baik sikap.

         

Tidak makan dan minum ketika berpuasa bukan berarti tidak ada makanan dan minuman yang bisa dinikmati. Namun itulah ujian untuk lebih menumbuhkan rasa empati. Tidak membalas mereka yang mendzalimi bukan karena kita lemah dan tidak memiliki kuasa. Namun itulah makna terdalam dari menahan diri (inniy shaaim) agar cinta dan damai yang lebih mengemuka. Semoga Ramadhan ini benar-benar mengajari kita akan pentingnya makna damai dan cinta. []

 
Samsul Zakaria, S.Sy.
,

Calon Hakim di PA Tanjung

Reporter UII News, 2015-2018

 

Note:

1. Tulisan ini telah terbit di Buletin Bulanan UII News, Hal. 12, Edisi 182, Th. 16, Volume 6, Juni 2018.

 

2. Tulisan ini juga dapat diakses di website Badan Peradilan Agama (Badilag) Mahkamah Agung RI: (https://badilag.mahkamahagung.go.id/hikmah/publikasi/hikmah-badilag/ramadhan-dan-pesan-kedamaian-oleh-samsul-zakaria-s-sy-6-6)

 

Total akses : 46