Selamat Datang di Situs Resmi Pengadilan Agama Tanjung - Tabalong | Media Informasi & Transparansi Pengadilan Agama Tanjung.


Kalender Hijriah

Senin
10
Zulqaidah
1439 H

Statistik Web

Jumlah Pengunjung :
223258
Pengunjung Hari Ini :
54
User Online :
1
Terakhir Update :
23-07-2018

Administrator Website

  • Rudiansyah

Pendapat Anda

 

Siapkah Kita Berubah?

كُلُّ شَيْئٍ يَتَغَيَّرُ إِلَّا التَّغَيُّرُ نَفْسُهُ

 

Setiap hal itu terus berubah kecuali perubahan itu sendiri.”

 

 

Pepatah Arab di atas memberikan satu gambaran bahwa perubahan adalah sebuah keniscayaan. Segala hal yang ada di jagad raya ini sejatinya sedang dan terus berubah. Teori yang sudah cukup lama beredar mengatakan bahwa yang paling mampu bertahan bukanlah yang paling kuat. Namun yang paling mampu menyikapi perubahan. Meskipun yang paling mampu beradaptasi itu boleh jadi adalah yang paling kuat. Tetapi tetap saja, titik tekannya bukan pada kuat dan lemah namun kemampuan diri ketika berhadapan dengan perubahan yang tiada kenal kata henti.

 

Dalam konteks pendidikan misalnya, kita diminta untuk mendidik anak kita sesuai dengan zamannya. Pasalnya, mereka akan hidup di zaman yang sudah pasti berbeda dengan zaman kita. Hal ini mengisyaratkan betapa perubahan yang akan terjadi pun harus sudah diantisipasi. Kemampuan untuk membaca gerak-laju perubahan itulah yang akan menjadikan kita siap menghadapi segenap situasi dan kondisi. Bahwa apa yang saat ini baru, esok sudah berkurang kebaruannya. Yang hari ini up to date, besok boleh jadi sudah out of date.

 

Menyikapi perubahan bukan kemudian berarti harus melakukan sesuatu yang benar-benar baru. Tetapi bisa juga melakukan sesuatu yang lama namun dengan cara yang baru. Dengan demikian, cara menyikapi perubahan juga menuntut untuk berpikir kreatif dan inovatif. Bila hanya melakukan sesuatu yang biasa maka semua orang sudah melakukannya. “Dalam setiap kesempatan Anda melihat pribadi yang lebih berhasil,” tutur nasihat berbahasa Arab. “Ketahuilah bahwa mereka melakukan sesuatu yang tidak Anda kerjakan,” lanjutnya.

 

Dalam banyak halaqah, saya sering sampaikan kepada para mahasiswa. Saat kita makan di Rumah Makan Padang dan di Warung Burjo misalnya, bukankah nasinya sama? Namun mengapa harganya menjadi berbeda? Yang menjadikannya berbeda adalah lauknya. Jadi, kalau mahasiswa hanya mengandalkan ilmu di ruang kuliah, semua mahasiswa juga melakukan hal yang sama. Titik pembedanya adalah hal bermanfaat apa yang dijalani dan ditekuni di luar ruang kuliah. Itulah lauk, yang menjadikan lebih berharga dari yang lain. 

 

Kesiapan untuk berubah kalau begitu harus dibarengi dengan keterbukaan diri. Tidak semestinya menutup diri untuk mencoba hal baru dan melakukan sesuatu yang berbeda. Dengan keterbukaan diri, kita akan mendapatkan referensi yang lebih untuk menatap masa depan yang jelas berbeda dengan saat ini. Berorganisasi, banyak mengikuti diskusi, berwirausaha, melatih diri untuk menulis yang baik, dan segenap aktivitas produtif lain akan sangat mendukung guna menghadapi perubahan. Sebab, kemampuan akademik saja tidak cukup tanpa disertai kecakapan sosial. 

 

Perubahan Mindset 

Dalam QS. Ar-Ra’du [13] ayat 11—sebagaimana yang sudah masyhur di telinga kita—Allah berfirman. “...Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kamu sebelum mereka mengubah apa yang ada dalam diri mereka...” Dalam ayat ini, Allah memberikan “kebebasan” kepada manusia untuk menentukan nasibnya. Meskipun tentu saja—sebagaimana diisyaratkan oleh ayat-ayat lain—segala perubahan atas ikhtiar manusia itu tidak lepas dari irādah Allah jua. Namun, manusia tetap memiliki opsi untuk berubah atau tetap nyaman dengan kondisi semula. 

 

Hal yang paling mendasar yang semestinya diubah adalah pikiran atau mindset. Pasalnya, ketika mindset sudah mengatakan bahwa berubah itu sulit maka berubah yang sebenarnya mudah akan menjadi sulit. Sebaliknya, perubahan yang paling sukar sekalipun sepanjang kita punya pola pikir (mindset) bahwa hal itu—atas izin Allah tentunya—mudah maka akan menjadi mudah. Mindset yang sudah tercerahkan tersebut akan menghantarkan pada perubahan-perubahan yang positif dalam hidup. Efeknya, kita pun akan lebih siap menghadapi setiap perubahan. 

 

Hal utama yang perlu diperhatikan dalam konteks perubahan mindset adalah mengubah pikiran negatif menjadi pikiran yang positif. Pikiran negatif dalam kadar tertentu barangkali baik sebagai bentuk antisipasi. Namun pikiran yang terus dipenuhi dengan hal yang negatif menjadikan seseorang ragu untuk melangkah maju. Kemalangan yang seringkali menimpa dikarenakan karena pikiran-pikiran negatif tersebut. Karenanya perlu mengedepankan pikiran positif, khususnya ketika berhadapan dengan ketentuan-ketentuan dari Allah. 

 

Pikiran positif (positive thinking) dapat diartikan juga sebagai pikiran yang lapang, alias tidak sempit. Pikiran yang lapang lebih siap menerima ragam ujian dan hambatan. Adanya hal negatif yang menghampiri tidak lantas menjadikannya teracuni dan mudah terpengaruhi. Namun justru menjadikannya sebagai pemantik untuk terus melangkap tegap ke depan. Sebab, hidup yang dinamis tidaklah selalu manis. Terkadang ada onak duri dan rasa pahit untuk menguji ketahanan diri. Pastinya, basic mindset harus selalu positif sehingga benar dalam menyikapinya. 

 

Analoginya sederhana. Kalau kita masukkan sedikit racun ke dalam segelas air, apa yang akan terjadi? Dapat dipastikan air dalam gelas itu akan terpengaruhi oleh sedikit racun tersebut dan air itu menjadi berbahaya kalau diminun. Berbeda halnya ketika kita masukkan racun yang sedikit tadi ke dalam kolam yang besar nan lebar. Akankah racun itu memiliki pengaruh yang besar terhadap air kolam? Tentunya tidak, andaikan iya pasti pengaruhnya sangat kecil. Artinya, semakin lapang dan luwes pola pikir, kita semakin siap untuk melewati riak-riak kecil yang menghampiri. 

 

Fixed Mindset dan Growth Mindset 

Ada yang membuat klasifikasi menarik perihal pola pikir atau mindset. Pertama, fixed mindset yaitu pikiran saklek yang ketika berhadapan dengan hal yang baru akan sulit untuk menyesuaikan. Pikiran ini juga termasuk dalam kategori comfort zone (zona nyaman) dimana si empunya “terjebak” dalam kenyamanan-kenyamanan tertentu. Dalam konteks tertentu, kategori ini baik sebagai wujud rasa syukur. Namun syukur yang produktif itu bukan kemudian tanpa upaya untuk terus memperbaiki diri. Sementara ikhtiar perbaikan diri itu adalah bentuk dari menyukuri nikmat pula. 

 

Kedua, growth mindset yaitu pikiran yang berkembang yang justru merindukan inovasi dan perubahan. Pikiran ini terus tumbuh menghantarkan pemiliknya meraih hal-hal baru yang positif. Ia berpikir kreatif atas keadaan yang dijalaninya sekaligus siap berhadapan dengan perubahan-perubahan yang terjadi. Pikiran model demikian ini tidak kaku namun luwes dan responsif terhadap perubahan. Perubahan yang dihadapinya justru menjadi tantangan untuk meningkatkan kualitas diri. Sebagaimana analogi di atas, pikiran ini lapang, tidak mudah terpengaruhi hal-hal negatif. 

 

Kedua klasifikasi tersebut tentunya memiliki nilai positif dan negatif. Namun dalam konteks dunia yang terus berubah, growth mindset nampaknya menjadi tawaran yang perlu dipertimbangkan. Bahwa ciri seseorang dikatakan hidup adalah manakala dia terus berubah dan tumbuh. Ketika perubahan dan pertumbuhan itu sudah tidak terjadi barangkali itu adalah “kematian” sebelum kematian yang sesungguhnya. Karenanya, sebagai wujud syukur akan nikmat hidup adalah dengan terus tumbuh membaik dan semakin baik. 

 

Growth mindset tentu saja tidak hanya tentang urusan dunia. Pola ini akan menarik ketika dihadapkan dengan ibadah kita kepada Allah. Ibadah yang menjadi kontrak hidup kita di dunia ini semestinya juga terus tumbuh dan semakin berkualitas. Bukan ibadah yang stagnan namun ibadah yang tidak pernah mengenal kata puas. Apalagi kita sebagai manusia tidak pernah tahu ibadah mana yang benar-benar menjadikan Allah ridha dan rela. Karenanya, mental growth mindset ini penting untuk mengeksplorasi ibadah kita agar terus tumbuh dan produktif. 

 

Dalam konteks pekerjaan, growth mindset ini menarik dihubungkan dengan mereka yang pekerjaannya berpindah-pindah. Ketika berpindah lokasi kerja tentu akan berhadapan dengan masyarakat yang baru sepaket dengan budaya, religiusitas, kuliner, pola pikir, pola komunikasi, dan seterusnya. Dalam situasi yang demikian maka pasti dibutuhkan keterbukaan pikiran agar dapat dengan mudah beradaptasi. Bila hal ini dapat dilakukan maka perpindahan kerja justru menjadi poin positif untuk dan mencintai dan mengarifi kemajemukan bangsa Indonesia yang luar biasa. 

 

Siap Berubah? 

Perubahan yang terjadi adalah media pembelajaran bagi manusia. Cara dan ikhtiar menyikapi perubahan adalah bentuk dari belajar itu sendiri. Kemampuan yang baik dalam beradaptasi dengan perubahan—dengan demikian—merupakan keterampilan (skill) sebagai hasil dari proses-proses belajar tersebut. Seorang imam mengetengahkan syair bahwa genangan air (yang diam) itu merusak dirinya sendiri. Bila air itu mengalir maka ia menjadi baik dan kala berhenti mengalir maka berhenti pula baiknya. Kalau begitu, siapkah kita berubah? WalLāhu a’lamu bi ash-shawāb. []  

 

Samsul Zakaria, S.Sy.,

Calon Hakim di Pengadilan Agama (PA) Tanjung, 

Alumnus Program Studi Ahwal Syakhshiyah FIAI UII

 

Note:

Tulisan ini sebelumnya telah terbit di Buletin Jum'at al-Rasikh yang dikelola oleh Direktorat Pendidikan dan Pengembangan Agama Islam (DPPAI) Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Jum'at, 13 April 2018.

 

 

Total akses : 249