Selamat Datang di Situs Resmi Pengadilan Agama Tanjung - Tabalong | Media Informasi & Transparansi Pengadilan Agama Tanjung.

Situs Pilihan



Kalender Hijriah

Rabu
15
Muharram
1440 H

Statistik Web

Jumlah Pengunjung :
227534
Pengunjung Hari Ini :
1
User Online :
1
Terakhir Update :
20-09-2018

Administrator Website

  • Rudiansyah

Pendapat Anda

 

Tentang Menjadi Hakim

Seorang dosen yang saya kagumi menulis buku dengan judul Tentang Menjadi Dosen. Saya memang tidak membaca secara total buku tersebut. Hanya bagian-bagian tertentu yang menarik perhatian saya yang saya baca. Meskipun tidak saya pungkiri bahwa seluruh isi buku itu sesungguhnya menarik. Buku itu berkisah tentang serba-serbi menjadi seorang dosen sebagaimana judul buku tersebut.

Dengan maksud mengambil inspirasi dan “berkah” dari buku tersebut, saya kemudian memilih menulis tulisan singkat berjudul Tentang Menjadi Hakim. Dalam konteks tertentu, tulisan ini akan lebih spesifik bercerita Tentang Menjadi Hakim Agama sebagai goal dari posisi saya saat ini. “Pada pokoknya, menjadi hakim itu berat. Kamu belum tentu kuat. Biar kami saja.” Begitulah seloroh kami.

Satu hal yang membuat saya terkesan tentang menjadi hakim yaitu satu nasihat singkat namun bermakna. “Kalau hujan tiba-tiba turun dan ada yang menawari payung, hendaknya ditolak. Barangkali, esok ia akan berperkara dan kita yang ditunjuk sebagai hakimnya.” Demikian petuah itu menasihatkan. Pasalnya, hal remeh-temeh tersebut berpotensi mempengaruhi imparsialitas hakim.

Dalam bahasa guru kami, penolakan terhadap bantuan payung itu adalah qiyas aulawiy. Artinya, kalau sekedar payung saja harus ditolak maka yang lebih besar nilainya dari payung harus lebih ditolak. Hal ini bukan tentang tidak menghargai pemberian atau kebaikan orang lain. Namun lebih kepada menjaga integritas agar lebih mungkin memberikan putusan yang berkeadilan, alias tidak berpihak.

Tugasnya Ceraikan Orang?

Ada satu fenomena di kala banyak Pengadilan Agama (PA) baru yang akan diresmikan akibat dari pemekaran daerah. Disebabkan gedung permanennya belum ada maka solusinya menyewa tempat atau bergabung dengan Kantor Urusan Agama (KUA). Anekdotnya, pegawai KUA menikahkan orang, sementara hakimnya menceraikan. “Sebuah kontradiksi ekstrim dalam satu gedung…,” seloroh kami.

 

Ketika mendengar kabar bahwa saya—alhamdulillah wa bi idznillah—diterima sebagai (calon) hakim banyak yang kemudian berkomentar miring. “Hakim agama itu tugasnya menceraikan orang ya?” ujar mereka. Buru-buru saya memberikan penjelasan dan klarifikasi. Bahwa perceraian itu adalah jalan terakhir (the last way). Jelas dalilnya, cerai itu halal, boleh, tetapi tetaplah perkara yang paling dibenci.

 

Banyak yang mengeluh mengapa pengadilan agama cenderung “mempersulit” proses perceraian. Senyatanya bukanlah demikian. Dalam proses perceraian itu—baik talak maupun cerai gugat—ada yang namanya mediasi. Mediasi itu berfungsi untuk mendamaikan, mencarikan jalan keluar terbaik di luar cerai itu sendiri. Jadi, putusan cerai itu baru diamarkan ketika perdamaian/rekonsiliasi tiada mungkin ditempuh.

 

Saya juga sampaikan bahwa kompetensi peradilan agama itu bukan hanya tentang perceraian. Dan lagi, perceraian itu sebenarnya adalah bagian dari pernikahan. Selain pernikahan, ada masalah warits, wasiat, hibah, wakaf, zakat, infaq, shadaqah, dan tentunya ekonomi syari’ah. Meski tidak bisa ditampik bahwa masalah pernikahan (cq. perceraian) yang mendominasi.

 

Tegasnya, tugas hakim agama bukanlah menceraikan orang yang ikatan sucinya membuat arsy berguncang. Hakim agama sebagaimana hakim pada umumnya (bersama unsur pengadilan lain) bertugas menerima, memeriksa, mengadili, dan menyelesaikan perkara. Dengan demikian, perceraian hanyalah salah satu kemungkinan dari proses yang telah dilalui tersebut.

 

Mengadili dan Menangisi

 

Ada nasihat bagi para hakim dari seorang filsuf yang menarik untuk direnungi. Kalau Anda menjadi hakim maka jadilah Anda sehari mengadili dan sehari menangisi. Artinya, putusan yang telah dihasilkan haruslah kemudian direnungi kembali dasar pertimbangannya, nilai kebenaran, keadilan, dan mashlahatnya. Di saat yang sama, seorang hakim harus merenung terlebih dahulu sebelum menjatuhkan putusan.

 

Jadi, seorang hakim haruslah berhati-hati dalam menjalankan tugasnya. Dan saya bersama para calon hakim lain Angkatan VIII (Oktasa) yang berjumlah 1584 orang itu harus mulai belajar tentang nilai-nilai luhur tersebut. Untuk memastikan kapling surga di kampung akhirat nanti, kami harus mengerti tentang kebenaran. Dan pastinya, harus memutus perkara dengan kebenaran yang kami yakini. []  

 

Samsul Zakaria, S.Sy.,

CPNS/Calon Hakim di Pengadilan Agama (PA) Tanjung,

Alumnus Program Studi Ahwal Syakhshiyah FIAI UII Yogyakarta

 

 

Total akses : 234